Golden Sunset di Bukit Malimbu dan Bukit Nipah

Sunday, July 03, 2016

Seri "Puasa di Tanah Saudara" bagian 1 

bagian 1 Bukit Malimbu | bagian 2 Pantai Seger bagian 3 Tanjung Aan dan Bukit Meresebagian 4 Bukit Nipah | bagian 5 Gili Air 1 | bagian 6 Gili Air 2 | bagian 7 Pulau Kenawa 1 | bagian 8 Pulau Kenawa 2 | bagian 9 Desa Mantar | bagian 10 Pantai Sekotong dan Mekaki | bagian 11 Taman Narmada |




Sabtu, 11 Juni 2016. Suatu pagi yang cerah dan penuh semangat. Sesungguhnya berbanding terbalik dengan keadaan malam sebelumnya yang kepala ini penuh pikiran. Memikirkan perjalanan yang akan kami tempuh.

Kami hanya berdua, akan melakukan sebuah perjalanan menuju tanah saudara di Timur tanpa ada saudara.

Jujur, saya mengkhawatirkan banyak hal. Meski sudah membuat rencana jauh-jauh hari, tetap saja rasanya masih mengambang karena ada beberapa hal yang masih berstatus 'lihat saja nanti di sana bagaimana'. Di samping karena...perjalanan ini akan memakan waktu sembilan hari!

Penerbangan jam 9.30 WIB dari bandara Juanda (SUB) Surabaya (di Sidoarjo), saya menjemput mba Jule di stasiun KA Sidoarjo sekitar jam 8. Perjalanan dari Sidoarjo kota menuju bandara sekitar 40 menit dengan kondisi jalan ramai lancar.

Sebelumnya ketika pamit dengan umik, saya sering berkelakar, "mik kalau nanti aku pulang hanya nama, maafin aku ya mik."

"Dikabulkan beneran loh ya," kata umik. Saya hanya mesem -_-

Sesungguhnya setiap perjalanan membuat saya berpikir lebih keras mengenai kematian. Kematian yang datangnya tak mengenal kondisi, situasi, waktu, dan tempat. Saya niatkan perjalanan ini untuk ibadah, tak hanya sekedar bersenang-senang, tak sekedar mengagumi kearifan budaya lokal--dan keindahan alamnya.

Praya! Praya! Praya!

Perjalanan pertama saya menaiki pesawat.

"Mbak, aku pingin perjalanan nanti ada turbulensinya, tapi yang ringan aja."

"Hush, bocah ini aneh-aneh aja."

"Pengalaman mba, itu gara-gara aku lihat ada pesawat yang kena turbulensi, rasanya kaya ada geronjalan kerikil."

"Heleeh."

Tapi alhamdulillah, tidak terjadi, saya hanya penasaran saja sih.

Hari yang cerah, hasil produksi matahari. Pesawat take off dimulai dengan ancang-ancang begitu cepat seperti naik roller coaster, saya tertawa sedang mba Jule meremat lengan saya ketakutan. Ini menyenangkan. Kemudian pesawat mulai terbang keudara seiring dengan tubuh yang menyesuaikan perbedaan tekanan udara.

Maasya Allah. Sombong adalah sifat wajar manusia, alamiah. Allah membenci orang-orang yang sombong, sebagai manusia, saya pribadi, sering merasa lebih unggul dari yang lain, namun kemudian sadar...tak ada alasan menjadi sombong, sungguh. Seperti seiring tingginya pesawat mengudara, semakin kecil yang ada di bawah sana. Sekaya apapun, sepintar apapun, secerdik apapun, sehebat apapun. Takdir kematian sudah dituliskan.

Gilies dari ketinggian
Akhirnya, pemandangan laut berganti dengan daratan. Dimulai dengan tiga gili indah di bawah sana. Semakin dekat dekat dengan Lombok!

Sebelumnya kami sempat pusing mengenai jadwal perjalanan, lebih tepatnya menyesuaikan dengan jadwal kuliah saya. Inginnya pada saat semua urusan sudah selesai. Dan atas izin Allah beserta banyak pertimbangan, kami memilih melakukan perjalanan pada bulan Ramadhan. Awalnya saya sendiri pun sangsi, nanti bagaimana?

Tapi, ini akan menjadi pengalaman yang menarik! Mba Jule (dan saya) membuat list :
WHAT TO DO :

1. Tahajjud
2. Ma'tsurat kubra pagi dan sore
3. Dhuha
4. ODOJ
5. Infaq/hari
6. Istighfar banyak-banyak
7. Hafalan surat
8. Baca tafsir Al-Qur'an
9. Jaga Wudhu
10. SMS orang rumah 1x/hari

WHAT TO BRING :

-Important
1. Al-Qur'an

-Random 
1. Waterproof case
2. Powerbank
3. Sisir
4. Tongsis

-Toiletries 
1. Pasta gigi
2. Siwak
3. Sabun
4. Sampo
5. Deodorant
6. Parfum
7. Sunblock
8. Sabun wajah
9. Body lotion
10. Pembalut
11. Handuk
12. Plastik besar dan kecil

-Outfit
1. Dalaman
2. Baju
3. Kaos tidur
4. Jilbab instan
5. Celana
6. Rok
7. Jaket LDK (ha!)
8. Kaos kaki
9. Manset
10. Masker
11. Sarung tangan

Daratan Pulau Lombok
Dalam pesawat satu row ada enam seats yang dibagi dua. Kebetulan sebelum kami duduk sudah ada bapak-bapak yang duduk di row kami. Dengan sopan (plus cengar-cengir) saya minta ijin tukar tempat duduk, dibolehkan, hehe. Mba Jule banyak ngobrol dengan beliau, yang ternyata terbang dari Kalimantan. Kami ditawari mampir ke rumahnya yang tidak terlalu jauh dari daerah bandara, namun sayang belum sempat tukar nomer hp.


Sekitar jam 11.25 alhamdulillah kami sampai di Bandar Udara Internasional Lombok (LOP) dengan selamat. Keluar dari bandara kami disambut dengan cuaca cerah dan panas Lombok. Sebenarnya tidak sepanas itu sih, sama seperti di Sidoarjo dan Surabaya, tidak beda jauh. Hanya mungkin tingkat polusinya (eh).

Tanpa menunggu lama, segera menuju parkiran sepeda motor untuk mengambil sepeda motor sewaan. Ya, kami menyewa sepeda motor di Lombok untuk tujuh hari dengan harga IDR 50K/hari. Untuk menemukan harga dan kondisi yang sesuai lumayan susah juga. Saya sempat mencari lewat internet dan tanya teman, rata-rata untuk matic IDR 60-70K. Setelah dinego mba Jule, alhamdulillah kami dapat harga IDR 50K, motor matic. Sebenarnya, motor persneling bisa lebih murah. Namun.....karena kondisi saya yang suka ngantuk kalau kena semilir angin siang (boom! Haha), dan mba Jule tidak bisa motor persneling, kami ambil matic. Omong-omong, ini harga low season. Kalau high season bisa lebih mahal lagi. Karena sepeda diantar ke BIL (Bandara Internasional Lombok), kena charge IDR 50K.


Perjalanan dari bandara yang berada di Praya menuju ke kota Mataram tertempuh sekitar 1.5 jam. Jalan bandara begitu mulus dan sepi ditambah semilir udara yang hangat sangat berpotensi membuat saya mengantuk, namun karena pengalaman pertama touchdown Lombok, saya menikmati. Beberapa saat kemudian (masih di jalur cepat bandara), tiba-tiba kami bertemu macet yang panjang. Berbekal keahlian salip sana-sini dari Jawa (apadeh), saya berhasil melalui dan melanjutkan perjalanan. Sempat heran karena banyak tentara yang berjaga sepanjang jalan, juga banyak warga yang berdiri di pinggiran. 

Ternyata eh ternyata.....ada R1 lewat. Jadi ceritanya rombongan Pak Jokowi akan bertolak dari Lombok, sehingga menimbulkan kemacetan dan menarik perhatian warga.

Hanya pendapat pribadi, menurut saya karakter pengguna jalan di Lombok sedikit berbeda dengan di Jawa (Timur terutama). Lebih kalem. Ini menurut saya loh ya~

Sempat sedikit nyasar, akhirnya kami sampai di penginapan Wisma Nusantara yang berada di Jl. Beo daerah Cakranegara, Mataram. Untuk informasi lebih lanjut bisa mencari di google beserta lokasinya. Harga yang ditawarkan bervariasi. Kami sebagai gembeltraveller, ga ding! Saya deklarasikan, kami adalah 'PEJALAN KEREN YANG BAHAGIA', memilih kamar dengan harga IDR 90K/malam.


Setelah perjalanan lintas zona waktu, kami beristirahat sejenak di kamar mungil dan nyaman ini. Kondisi asli tidak sesuram di foto. Kamarnya bersih dan nyaman, begitupun dengan kamar mandi dan airnya yang segar.

Sore hari kami memutuskan untuk pergi ke daerah Senggigi untuk mengunjungi Bukit Malimbu dan Bukit Nipah yang indah, rekomendasi dari umik yang baru saja beberapa hari sebelumnya pergi ke Lombok.

Perjalanan sekitar satu jam dengan bantuan GPS. 

Islamic Center Nusa Tenggara Barat
Perjalanan sore yang cerah dan sejuk menjadi menyenangkan diangani bayangan sunset. Sambil menikmati 'perbedaan' suasana Jawa dan Lombok. 

Melewati daerah Senggigi yang penuh dengan jajaran bungalow, villa, hotel, homestay, kafe, serta warung ikan bakar yang sayangnya tutup karena bulan Ramadhan. Daerah Senggigi tertata apik dengan jalannya yang mulus. Maklumlah, daerah ini ramai akan wisatawan asing. Kami beberapa kali bertemu dengan bule yang mengendarai sepeda motor. Terlihat lucu....entahlah, hehe.

Sepanjang daerah Senggigi dekat dengan bibir pantai. Titik pertama adalah Gardu Pandang Batu Layar. 
Di sepanjang bibir pantai daerah Senggigi yang padat akan penginapan
Saya tantang anda untuk menulis caption tentang gambar ini!
Matahari yang bersembunyi di balik rimbunan awan, menjatuhkan berkas sinarnya bagai penuntun jalan menuju surga. Tsaaaah!

Kemudian kami kembali memacu sepeda motor. Menuju Bukit Nipah dan Bukit Malimbu, setelah sebelumnya googling tempat-tempat menarik menyaksikan matahari terbenam.

Bukit Malimbu
credit : dowith-passion.blogspot.com
Tiga Gili dari kejauhan
Bahkan berkas cahaya keemasan sprinkled di dedauan, epic!
Maasya Allah. Alhamdulillah. Sedikit kami bercakap, sisanya sibuk masing-masing mengambil golden sunset moment. Beruntungnya kami pada hari itu langit cerah, sehingga dapat menyaksikan tenggelamnya sang surya ke peraduan.

credit : dowith-passion.blogspot.com
meme tersedia, silahkan di cek, lol
credit : dowith-passion.blogspot.com


Langit mulai gelap, kami akhirnya kembali ke Kota Mataram (setelah ditegur tukang parkirnya kalau waktu berbuka sudah dekat, sungguh terlena!). Maghrib di jalan, alhamdulillah kami bisa berjamaah di Masjid At-Taqwa, masjid pusat terbesar di Mataram (banyak mobil plat merah parkir euy!). Sekalian shalat Isya' dan tarawih, dan kembali ke penginapan.

versi lain dari perjalanan ini, silahkan kunjungi : dowith-passion.blogspot.co.id

credit : dowith-passion.blogspot.com

Lombok, [16.06.11] 


You Might Also Like

0 apresiasi

Bagaimana? Beri pendapat sekaligus kenalan yuk! ヽ(⌐■_■)ノ♪♬

Sanak Rancakヾ(⌐■_■)ノ♪

Sahabat Google+

Baca ini geh!

10 Hal yang Harus Dilakukan Kalau Main ke Lombok

Dong ayok ke Lombok = ayo dong ke Lombok! INDONESIA,  adalah sebuah negara dengan belasan ribu pulau, tempat melintangnya garis...

✿Zahrahstagram✿