Risiko Hidup: Prasangka

Wednesday, May 03, 2017

Namanya orang hidup, pasti berinteraksi, bersosialiasi, melakukan segala macam aktifitas, dan segala bentuk aktualisasi diri lainnya. Dan sebagai makhluk sosial, tentu semua itu akan bersinggungan dengan kepentingan manusia lain, tak bisa dielakkan. Dan hal ini tidak bisa tidak, kecuali kamu hidup di hutan.

Saya yakin semua dari kita sudah paham betul mengenai risiko hidup jadi homo-sapiens. Prasangka

prasangka/pra·sang·ka/ n pendapat (anggapan) yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui (menyaksikan, menyelidiki) sendiri; syak: sebenarnya semuanya itu hanya berdasarkan -- , bukan kebenaran;
-- ras pendapat atau perasaan yang buruk terhadap ras tertentu tanpa pengetahuan atau alasan yang cukup

Rasanya sedih sekali mendapat prasangka dari orang lain. Padahal kita tahu betul apa yang diungkapkannya tidak benar, apalagi orang yang berprasangka tidak ada kaitannya dengan urusan kita. Yoy! Dan saya mengalaminya.


Saya tinggal di suatu rumah bersama dengan beberapa orang. Siang itu saya bertanya di grup rumah megenai jadwal piket, dengan maksud mencari hari yang pas untuk ganti jadwal. Karena rencananya, Kamis depan (jadwal piket asli saya), saya ada rencana untuk ke Sidoarjo. Maunya sih ganti hari Selasa atau Senin agar Rabu siang sudah bisa pergi.

Setelah itu saya melakukan percakapan pribadi dengan dua orang untuk menyesuaikan ganti jadwal, alhamdulillah.

Nah, namun........

Oleh seseorang sepertinya pertanyaan saya dianggap sebagai 'teguran' bagi yang piket dihari tersebut supaya melaksanakan tugasnya. Padahal sama sekali tidak ada niat menyinggung atau menegur atau menyuruh, bahkan mengingatkan. Seperti-sepertinya saya ini terlalu keras (?)/kurang kerjaan (?)/tidak penting (?)/ rese banget dalam urusan jadwal piket. Padahal untuk urusan piket, sangat saya serahkan pada masing-masing individu sebagai anggota rumah yang memiliki kewajiban untuk bersama merawat rumah.

Muncul tanda tanya dalam diri. Apa kalimat saya salah? Apa kata yang saya gunakan tidak tepat? Apa salah saya bertanya jadwal?

Disitu saya merasa sedih. Kaya jadi orang ter rese sedunia. Lebay banget -_-
Tapi pada saat itu saya benaran butthurt.

Padahal, urusan saya dengan dua orang untuk bertukar jadwal sudah selesai, tak ada masalah.

Rasanya tak ingin memberi penjelasan apa-apa. Biar saja beliau memiliki prasangka tersebut terhadap saya. Tidak peduli pikiran buruk atau rasa tidak sukanya karena (dikira) saya rese tentang jadwal piket. Maunya tidak peduli.....ya......maunya~ biarin aja. Selama gak macem-macem sama rekening bank gueh, me don't care so much! Bahkan bila hubungan jadi buruk, sanggwan anhae lah.

Tapi habis itu ada yang nimpalin suruh konfirmasi di grup biar semuanya jelas. Di sini saya pingin ketawa sebenarnya. Mau tuker jadwal piket aja sampe gini he? Hufet. Yaudah akhirnya saya kirim tangkapan layar berisi percakapan pribadi 'tuker jadwal' dengan dua teman. Trus habis itu grupnya sepi, gak ada tanggapan lagi. O aja deh.

Ah ya gitu pokoknya. Namanya orang hidup, siap-siap saja suatu saat terkena prasangka. Bahkan bila merasa sudah menjadi orang baik dan tidak pernah bermaksud buruk pada siapapun, kita tidak bisa mengontrol pikiran orang lain. Kita tidak bisa mengatur perasaan orang lain terhadap kita. Satu hal yang bisa (harus dilakukan): cuek! Eh bukan......tetap berbuat baik, baik kepada yang baik, lebih baik kepada yang buruk.

Susah. Iya susah. Akupun rasa susah :' tapi mau gimana lagi. Itu rumus hidup bahagia dan sukses ala aku wkwk.

Jadi curhat T_T maafkan aku! Artikel lanjutan main di Balekambang, Jembatan Panjang, dan Tanjung Sirap on going kok :)

Rabb-ishrah li sadriwa yassir li 'amri, Wah-lul 'uqdatam-min-li-saani, Yaf-qahuu qawlii.....amiin.
Ya Allah maafkan aku...jauhkan dari prasangka terhadap saudaraku.....

You Might Also Like

7 apresiasi, terimakasih banyak!

  1. prasangka uda dari ada dimanusianya mbak lebih baik prasangka baik aja lah :).
    sekali kali curhat nggak apa apa mbak di blog :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wajar mas berprasangka, tapi seyogyanya lebih dikontrol lagi kan :)
      susah, tapi harus. Demi kelangsungan kehidupan manusia yang damai, ehe.
      Terimakasih atas 'nggak apa-apa' nya mas wkwkw

      Delete
  2. Aku juga sering dulu prasangkain orang. Sekarang mah mikirin yang positif aja. Udah makin dewasa, nggak mau nambah beban dengan pikiran negatif ke orang lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ciye dah dewasa, dan lulus SMA, bagus, pertahankan *thumbs up*

      Melihara sika husnudzon itu susah, beneran. Tapi harus. Up and down sih.

      Dengan ada pikiran negatif, kita bakal keganggu sendiri dan scr gak lgsg justru brrti kita perhatian sm tuh org wkwk.

      Delete
  3. Ini nih, aku lagi dalam masa buat nggak berprasangka yang engga engga atas prasangka orang lain. Hahaha (mbuletnya bahasanya). Initnya itu sih, karena kadang kita jadi ga happy cuma gara-gara prasangka kita ke orang lain. Apalagi didunia kerja, hmmzz gmz gmz gmz.

    Bismillah, semenagat sama-sama meminimalisir prasangka, yang bisa jadi ketika kita berprasangka atas prasangka temen, justru kita juga suka berprasangka yang engga engga, sama aja deh :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya aku paham kak!! Maksudnya terjadi blunder dalam diri kita sendiri "jangan2 tuh orang prasangkain aku lagi". Jadi kita berprasangka orang lain berprasangka [?] /ikuran mbulet :( wkwkwk.
      Malah kepikiran, pdhl ga penting wkwkw. Widening your heart kalo gitu ka xD

      Biidznillah :3
      Nah itu juga point yang aku maksud! Mari pelihara huznudzon :)

      Delete

Bagaimana? Beri pendapat sekaligus kenalan yuk! ヽ(⌐■_■)ノ♪♬

Sanak Rancakヾ(⌐■_■)ノ♪

Sahabat Google+

✿May Challenge✿

plain-white-background

✿Zahrahstagram✿