Demi Sumber Pitu (Pujon) Kami Rela Mandi Debu

Tuesday, July 25, 2017

Sumber Pitu Pujon

Hari yang spesial gais. Assalamualaikum!
Cuma mau bilang, kalau perjalanan ini terjadi 2015 silam, ehe. Tapi ngga papa, belum basi untuk dijadikan bahan obrolan di blog kesekian dalam hidup gue ini. Meski terjadi tahun 2015, gak bakal terlupa bagaimana sepanjang perjalanan gue kolaps mau muntah  puyang menggeliyang gara-gara makan soto super pedas sebelum perjalanan dimulai. Muehehehe.

Sumber Pitu Pujon

Ininih biang koleps gue. Soto di depan masjid Alun-alun Batu. Enak dan sedap kok, cuma ya.......emang salah gue. Mau main merambah hutan dan tebing malah makan pedas. Alhasil jantung memompa darah lebih cepat dan semakin cepat. Rasanya mau mati, gak bisa nafas. Maunya goleran aja deh di rerumputan kering. Tapi kan aku harus himnaeseyo.

Sumber Pitu Pujon

Sabtu, 15 Oktober 2015. Gue dan mba Jule pergi ke Pujon untuk menuntaskan rasa penasaran terhadap air terjun yang pada saat itu namanya sedang tenar di platform instagram. Memang manusia jaman sekarang mudah sekali terpengaruh oleh apa-apa yang ada di platform berlogo kamera penuh warna ini. Sepertinya sih bagus dan menantang! 

Disambut pagi dengan matahari yang pede menyinari bumi, kami memacu sepeda motor menuju Sumber Pitu. Sumber Pitu letaknya di Pujon, suatu daerah di sebelah kota Batu kesanaan dikit arah Kediri. Dari alun-alun Batu, lurus saja mengikuti jalan bermarkah kira-kira 20 sampai 30 menit. 

Ketika itu meski bulan Oktober sudah menyapa, namun intensitas hujan belum terlalu tinggi. Mungkin sang hujan masih berembuk dengan petir, kilat dan pelangi. Mana yang bakal jadi visual, rapper, lead-vocal, sub-vocal. Halah ngaco. 

Alhasil tanah sepanjang jalan keriiiiiing dan mengurai debu-debu menjadi kepulan yang bikin sesak nafas. Padahal ekspektasi gue, dari semburan debu tersebut bakal muncul dewa Poseidon bawa fish-eye lens dan tongsis dari trisula nya hahaha. Nyatanya, bila gue berada di belakang motor lain, mending  ngalah beberapa saat. Karena putaran roda sepeda motor di depan kami akan menyemburkan debu macam orang bersin trus nyangkut satu butir nasi yang menjadi upil.

Sumber Pitu Pujon

Hampir semua pengunjung yang gue jumpai menggunakan masker. Bukan sok gaya-gayaan airport fashion ala ala artis Daehan Minguk (Mansae). Ini dilakukan untuk mencegah debu-debu bandel jomblo masuk ke lubang hidung dan mengganggu kerja paru-paru.

Sampai di loket kami membayar tiket 10.000 rupiah per orang dan melanjutkan perjalanan selama 15 menit menuju tempat parkir. Setelah memarkir motor, kami memulai perjalanan sesungguhnya dengan berjalan kaki sekitar 2 jam

Cuaca yang terik dan berdebu membuat gue langkah pendek gue terasa agak berat. Meski begitu, pemandangan yang disiapkan oleh Allah benar-benar memuaskan dahaga. Lajur tebing di sebelah kanan jalan meliuk tajam ke bawah, namun gugus puncak pegunungan di cakrawala sana bersorak riang mendukung gue melangkah dengan semangat. Macam bikin salad sayur dengan tomat segar dan dressing yang kecut plus manis.

Tapi seperti yang gue bilang di paragraf awal. Pada perjalanan penuh debu ini gue mengalami kolaps yang tidak kece. Mana ada gembeltraveler kolaps gara-gara sarapan soto pedas? Lemah! Sedih gue.........................

Topografi akses menuju Sumber Pitu yang naik-turun belok kanan-kiri membuat dada gue makin sesak. Yang bisa gue lakukan akhirnya goleran di rumput kering atau peluk mesra pohon-pohon pinus setiap 5 menit sekali. Nggak lagi-lagi deh makan pedas kalau mau main. Padahal kan nikmat banget soto dengan banyak cabeh.

Sumber Pitu Pujon

Yuhuu! Sampai?

Sampai? Nggak. Inimah.....katakanlah first check point. Terdapat air terjun berketinggian sedang membentuk kubangan yang digunakan orang-orang untuk beristirahat sejenak setelah begitu lama berjalan kaki di bawah sinar matahari. Bagi yang sudah tua, atau anak-anak, atau siapapun yang tidak lagi kuat berjalan, mungkin sampai di sini saja cukup.

Dan.....sedihnya, seperti biasa, gue menemukan banyak sekali sampah berceceran. Oke gue masih tidak mengerti, kenapa orang buang sampah sembarangan. Lega gitu buang tidak pada tempatnya? GLOBALISASI....GLOBALISASI...........

Sumber Pitu Pujon

Beranjak dari air terjung yang tadi, gue melanjutkan perjalanan menuju air terjun yang dimaksud, yakni Sumber Pitu (tujuh sumber). Wedewwww, kita harus melewati tangga dengan kemiringan hampir 90 derajat! Mana pegangannya berupa kayu dan tali yang ikatannya tidak terlalu erat satu sama lain. Harus ekstra hati-hati seperti mencari huruf  di antara 99 huruf O. Tolong jangan seperti mba Jule............karena beliau termasuk dalam beberapa pengunjung yang terpeleset. 

Sumber Pitu Pujon

KAMPAI! (kami sampai)

Alhamdulillah......setelah berkali-kali istirahat dan menahan mual, akhirnya sampai juga di sini! Yeah! Gue lihat dua bendera Indonesia melambai-lambai bahagia ke arah gue seolah memanggil kemarilah Zahrah.....mendekat, rasakan airku yang segar. Sambil mata berbinar gue berucap syukur kepada Allah Yang Maha Kuasa atas kesempatan waktu dan usia, serta kesehatan dan kemapanan sehingga bisa mencapai Sumber Pitu dengan selamat.

Gue terpana gais.

Inimah indah banget sekali :)

Gue kayak berada di salah satu scene film-film Disney. Terutama ketika pemerannya sedang berjalan-jalan di hutan, terus tiba-tiba dari balik semak-semak, muncul tebing yang menjulang tinggi hampir meraih langit (ululuuuu). Dan dari celah-celah tebing tersebut mengalir cairan air mata naga secara vertikal membentuk kolam awet muda. Waw!

Ya enggaklah.

Tanpa menunggu lama, gue dan mbak Jule melangkahkan kaki menuju Sumber Pitu. Membuat suara gemericik air semakin jelas terdengar. Gue juga bisa merasakan titik-titik air kecil menyiprat jahil ke wajah gue yang kuyu akan peluh debu dan terik. Hilang sudah rasa kaku di sendi lutut maupun rasa mual yang membelenggu. Tergantikan oleh sajian kesegaran alam yang hangat mencumbu.

Sumber Pitu Pujon

Berdiri di bawah Sumber Pitu seperti ini rasanya pingin bikin kerajaan sendiri. Dan aku ratunya. Nanti di bagian depan kerajaan diberi tirai air semacam ini. Gue gak mau kalah dengan saudara tiri gue si Elucia, peri air di game Summoners War. Nanti gue sediakan sabun+sampo sekalian. Jadi siapapun yang masuk kerajaan gue sudah mandi dan wangi.

Anyway hati-hati yah naik kesininya. Nggak seenak dan segampang terlihat difoto. Itu gue berdiri sambil kaki gemeteran karena suara air di belakang gue yang bergemuruh, ditambah pijakan nya gak ajeg. Iya coy, tanahnya adalah tanah bebatuan merah yang rapuh dan mudah terprreteli

Sumber Pitu Pujon

Teman nemu on the spot, ehe.

Sedang enak-enaknya menikmati Sumber Pitu yang asri dan adem, gue melihat sekumpulan cewek yang mau foto-foto. Nah nampaknya mereka kesusahan, akhrinya gue menawarkan diri untuk motoin. Lamaan dikit, akhirnya kita saling kenalan. Ternyata mereka adalah mahasiswi UB satu tingkat di atas gue, angkatan 2013. Mereka belajar di jurusan kedokteran hewan. Keren yah ^_^ sampai sekarang kita temenan :)

Sumber Pitu Pujon

Senang sekali berada di sini, pemandangannya ajiib!

Sumber Pitu Pujon

Gue lanjut mendaki teruuus lebih tinggi daripada Sumber Pitu. Jalannya nakutin coy. Apakah kalian bisa melihat Sumber Pitu di bawah sana? (nada Dora) Looks amazing yah.

Ohya, selain Sumber Pitu (tujuh sumber), ada juga Simber Lima (lima sumber) yang letaknya naik lagi dari Sumber Pitu. Nggak jauh kok, tapi menurut gue lebih bagus Sumber Pitu. Tapi bolehlah naik lagi ke Sumber Lima supaya bisa lihat Sumber Pitu dari atas.

Sumber Pitu Pujon

Pendekar Merah Putih.

Sumber Pitu Pujon

Sudah pantas belum jadi Dryad? Dryad syar'i. Dryad hijabi.

Lepas main-main dan lelah-lelahan, sekitar jam 3 sore kami memutuskan untuk menyudahi kunjungan di Sumber Pitu. Alhamdulillah saat turun ke bawah, matahari mulai meredup dan lengser ke peraduan barat sehingga meringankan langkah. 

Gue sangat menikmati suasana hutan yang cukup sepi.
Hanya terdengar tapak kaki kami.
Bersama mentari yang tersenyum sepenuh hati.
Langit oranye yang berseri pun tak membiarkan kami sendiri.
Bila suatu nanti, ingin gue kembali lagi kesini.

Sumber Pitu Pujon

foto kiri: saat makan soto
foto kanan: abis main mau pulang

Perjalanan pulang, kami singgah dulu di salah satu masjid daerah Pujon arah Paralayang. Setelah memarkir motor, gue dan mba Jule berjalan menuju ke bagian perempuan untuk wudhu. Saat itu ada seorang bapak-bapak yang melihat kami sambil geleng-geleng kepala, 'habis dari mana itu mba? kok kotor banget?' muehehehehe. Kami jawab, 'dari Sumber Pitu pak ehe.'

You Might Also Like

51 apresiasi, terimakasih banyak!

  1. masyaallah, pemandangan nya itu , kok bisa cantik seperti itu mbak.
    hartakarun malang, ya tempat itu mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mwehehehehe
      iya, bagus bangeeeettt
      Biasaan aja mah ciptaan Allah pada alamnya tuh, emang top wkwk.

      Bannyak harta karun di Malang xD

      Delete
  2. Pemandangannya keren ya, Teh. Berasa ingin beremdem untu ngadem..hehe
    Gak heran kalau habis maen ada perubahan, terntu kotor. Kata iklan apa tuh, lupa :D
    Berani kotor itu baik..wkwk

    Makin nambah referensi aja nih di Malang, sekalipun belum. Duh, list aja dulu lah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngadem dan berendam mah keharusan banget bang.
      Jalan dua jam berdebu dan terik, bayarannya ya basah-basahan mwehehehe.

      Lagian ga mungkin ga basah, kan terciprat air terjunnya.........................ea. Wkwk.
      Iklan rinso!

      Wkwkwkw ayodeh~ dah banyak nih yang saya ulas tentang Malang di sini. Cus in ajalah wkww.

      Delete
  3. COOL!
    Cerita lama bersemi kembali..

    Kalau main ke Curug a.k.a aer terjun emang butuh perjuangan sih. Karna lokasinya pasti berada di pedalaman.

    Tapi sepanjang Aer terjun yang pernah aku kunjungi ga ada tuh yang pancaranya sampe banyak gitu, this is awesome Zhard !

    Eh tapi sayang ya itu ga bisa di pake nyelem-nyelem gitu.
    padahal kalo ada kolam yang dalem banget gitu asik loh bisa buat mandi manja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyalah. Ngga cuma cinta mwehehehe.
      Kalo itu mah udah mainstream.
      Recall cerita travelling dua tahun yang lalu lebih bermakna #eainajah.

      Terimakasih banyak bang Leon!

      Hmmm.........paham sih. Buat yang jarang dimanja, kolam buat mandi manja harusnya ada ya......................................
      Tapi sebagai generasi milenial, kita harus lebih strong. Okein aja nguehehe.

      Delete
    2. Moga tahun ini ada orang yang bisa manjain aku :)

      Delete
    3. Wah, bau-baunya ada yang mau anu nih wkwkwkw.

      Mantapkan bang! Bismillah semoga dapat yang terbaik. Di siarkan langsung di IG lah, biar seluruh Indonesia bisa menyemarakkan wkwkwkkwkwkkw /apaandah xD

      Delete
  4. Cantik bangeeeeeettttttt.......


    Pemandangannya!

    Bener loh serasa di film-film
    Ada suasana idsney-disney nya gituhh

    Eh ya ampun itu kaos kaki dan sendal gunungnya sampe coklat begitu wkwkkwkwwk

    Anyeong!~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kece banget ya bang?

      Kuy lah disegerakan akadnya,

      akad ke sini. Uhuy.

      Kalau katanya kaya Disney, ane princess apa yak wkwkw.

      Kaya abis kunjung ke pabriknya Willy Wonka wkwkwkw.

      From me, na do annyeong ehe.

      Delete
  5. Aku malah kangen sama Kafe Sawah di Pujon Kidul hahahaha. Sudah ke sana tapi belum sempat nulis :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga udah pernah ke sanaa!!!

      Iya bagus, dia tuh desa banget yang nenangin gitu.

      Dan banyak fasilitas yang bisa bikin refresh dari polusi kota yang tidak menyehatkan wkwkw.

      Buruan ditulis kang xD

      Delete
  6. Mashaallah..........
    udah pernah kedaerah batu tapi gak sempet mampir sini :(
    baru ke coban rondo ajaaaa
    aaakkkk boleh lah mbak kapan-kapan diguide in bareng explore batu hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waah, sayang banget!
      Kapan-kapan bolehlah yaa main kesini jangan lupa~
      Pujonnya deket sama Malang kok~

      Mwehehehe insyaAllah mba kalau ada kesempatan waktu, seneng banget jadi guide wkwkkw.

      Delete
  7. HhAHG, beda kaos kakinya bisa kayak gitu ya? Itu mah namanya Buluk :D...
    Mungkin problem kamu kayak aku Zahra, bukan karena kepedesan, tapi karena tekanan darah rendah. Aku pernah collapse juga karena habis makan kupang, tapi setelah diperiksakan, ternyata itu gejala hipotensi, karena tekanan darah kita saat makan berkumpul di perut sehingga isi perut harus dimuntahkan agar otak kebagian supply darah...semoga ga terjadi lagi deh,,,nggak enak banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bulukkk bwaaaanget!!
      Padahal aslinya bunga-bunga cantik u.u

      Iyakali ya~~~ hmmm ibu aku juga darah rendah sih. Jaid mungkin kita sama huhu /pelukan yuk ka /T.T wkwkwkw/

      Ahhhh~~~~~~ begitu ya, hmm jadi ngerti. Tapi kan sayang kalau dimuntahin. Sayang duit! Wwkwkwkkwkw xD /meditnya keluar wkkw/

      AMIIIIINNN >.<

      Kakak kalau pulang dari Jerman musti kesini yah!

      Delete
  8. Huwoooo bagus banget itu tempatnyaa! kayak di dunia fantasi. Bukan dunia fantasi dufan ya. Maksudnya.. Err gitu deh. Anyway, kayaknya gue baru pertama kali main ke sini deh. Salam kenal ya! \(w)/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mwehehehehehhehehe.
      Iya soalnya gue edit, keren in aja kan ya mwehehehe.

      Ya gapapa.
      Dunia fantasi emang wajar kok hadir ditiap hidup manusia wkwkwk.

      Ng kok gue rasa engga ya bang /?

      Yaudah salam kenal dan selamat datang deh!

      Delete
  9. ini post kapan, BW nya kapan *nggapapalah, demi silaturahim ala dunia maya* XD

    fotonya kudu dikasih efek macam painting gitu ya za? bagus sih, tapi jadi kurang natural *hasyah, sok-sokan banget ini anak* wkwk

    kalau main ke tempat terbuka gini mah, emang kudu siap-siap berdebu, muka kusam dan berminyak. belom lagi kadang cuaca yang sulit diprediksi, tapi kadang perjuangan berat macam ini bakal ngga kerasa pas udah sampai di lokasi tujuan, apalagi ke air terjun. pas kena airnya gitu, langsung berasa adem-adem sejuk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngga papa mas, ketupat lodehnya masih ada kok, monggo /siapin piring sama sudu wkwkw/

      Hahahaha akhirnya ada yang nyadar kalo di edit painting :(
      emang mas, soalnya kualitas fotonya tuh agak ga bagus. Nah daripada ga sharp deelel, mending saya begitukan.

      Asyik, tauaja. Tapi bener banget sih mas. Emang kudu begitu.
      Keluar rumah ya siap risiko berdebu dll.
      Tapi kan pulang-pulang bawa file foto banyak dan bahan blogging wkwkwkw.

      Delete
  10. Nggak bakal basi deh kalau ngobrolin soal piknik Ra.. Asik aja kali walaupun udah 2015 pun.
    Btw aku belum pernah kesini nih, yang udah kesini adek aku malah. Dia bilang capek dan karena doi emang g suka sesuatu kegiatan fisik (kayak jalan kaki), dia engap gitu, dan untung pulangnya dapet tumpangan gratis dari bapak-bapak ngarit XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwkwkwkwkwkw yaudahlah, nanti aku ceritain pengalaman aku main ke Sulawesi waktu umur dua tahun gimana ya :'
      Pasti udah gak valid lagi wkwkkwkw.

      Naaah!!! Lah emang jalannya aja dua jam naik turun huwe T_T

      Tapi alhamdulillah aja sih, bakar kalori :)
      trus juga ga sayang kok, pemandangannya indaaah banget, mengagumkan! Kakak harus coba xD

      Delete
  11. Perjuanganya super sekali mbak :D
    Tapi nggak nyesel deh kalau viewnya kayak gitu.. Masya Allah..
    btw itu kotor kotoran pulang pada dimarahin nggak ?? wkwkwkw #PIsss #Bercanda :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwkwkkwkkwkwkwkwkkwkw mwehehehehe. Pake kekuatan serbuk sari soalnya /?

      Iyah bener banget. Lagian sekalian exercise kan xD

      Gak ada yang marahin sih, cuma pada kaget sama geleng2 kepala aja. Kotornya gak manusiawi soalnya xD

      Delete
  12. Aku kepo sama efek fotonya ih. Keren banget. Jadi kaya lukisan gitu. Ajarin dong....
    Aku tahu banget betapa sedihnya lihat pemandangan cantik tapi ada sampahnya. Gemezzz.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pake online apps kok teh wkwkw xD ga sengaja nemu.
      Jadi tuh waktu main kesini bawa kamera poket gitu,
      nah hasilnya gak setajem DSLR kan.
      Nah, akhirnya diperbaiki kaya gini xD

      Minta dijitak emg yg buang sampah sembarangan tuh --

      Delete
  13. Pejalanannya cukup menarik sekali, walau harus bermandi debu yang penting asik dan menyenangkan... :)

    Saya baru tahu ternyata disana ada Sosok Bidadari, sedang duduk di kerangka pohon lagi, heheheh....

    Poto2nya itu sudah diedit yach mbak, sebab terlihat unik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah buakn literally mandi debu, tapi gerimis debu deh. Soalnya sepanjang perjalanan dikepulin debu tanah liat wkwkw.

      Bukan bidadari itu, tapi dryad, peri pohon.
      Saya datang ke bumi untuk menjaga dan memperingati manusia akan pentingnya menjaga lingkungan wkwkwk.

      Hehe, iya. Lagi pingin mainan photo editor sih. Jadinya kayak begitu~

      Delete
  14. Assalamualaikum,

    wuidiiih keren banget view nya dek ! 2 jam hiking mantaabz mayan gempor kalo saya.
    tapi terbayar dg segala keindahan yang alam suguhkan. Sumber Pitu ... amazing !
    foto2nya cakep ... yang di air terjun, yang di hutan pinus, ...

    lain kali mau lah ajak2 makan sotooooo ... suegerrr.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waalaikumsalam kaaak :) duh longtime no chitchat ya T_T

      Huehehe xD saya gak gempor, tapi udah tahap kolaps berkunang-kunang, mual, kehabisan napas, dll. Alay banget dih xD

      Ayo kapan balik ke Indonesia trus silaturrahim ke Malang hihihihi /dipikir semudah itu -_-/.

      Siniiiii!! Tapi aku mau ajakin di dekat rumah aku ajalah, lebih enak dan melegenda dari 20 tahun yang lalu XD

      Delete
  15. itu edit pake apa ya, jadi unik lukisanya. gimana ujian-ujianya.? dah kelar?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu dia! Saya udah edit foto-foto ini setahunan yang lalu.
      Dan mau cari-cari lagi apps nya gak ada, padahal udah ubek2 beberapa hari ini.
      Sayang banget padahal editannya oke-oke ih -_-v

      Belum pak hehehehehe. Masih proses. Flash blogging biar segar xD /alesan/.

      Delete
  16. Wuahahaha πŸ˜‚ ...
    Makanya lain kali ngga usah makan sampe kepedesan gitu,kaaak ...

    Betewe,
    Lokasinya keren banget πŸ‘

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah diketawain :')
      Tapi justru rasa sakit di lidah ketika nambahin sambel itu yang bikin makin lahap!
      /alesan lagi alesan lagi/

      Ya deh kalau main-main macam gini ga makan pedes lagi wkwkw.

      Saya juga setuju!

      Delete
    2. Hati2 ya,kak ... ntar overweight loh kalo makin lahap gegara kepedesan 😁

      ... Betewe, tanah yang dipijak itu gampang ambrol mreteli yaa ... πŸ€”
      Wah, serem juga tanahnya labil gitu.
      Tapi sepadan kok, pemandangan air terjunnya unik banget

      Delete
    3. Waaaaah, iyakah?
      Aduh terimakasih banyak atas nasehatnya hehe ^^v

      Iya ih, seram saya. Beberapa kali waktu melangkah ada aja kerikil yang jatuh ke bawah.

      Monggo silahkan ibuat itenerary kemari ehehehe.

      Delete
  17. Kereeenn.. Gambar2nya asik mbak.. Memancing pengen ke dunia khayalan gitu πŸ˜‚
    walaupun diedit gitu tapi gambaran tempatnya tetep dapet asik kesannya.. Mantap 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halooo kak Anggun :)

      Hehehe, makasiiihhhh /peluk virtual/ wkwk.
      Nah itu yang selalu aku pikirkan kalau lihat foto-foto ini!

      Awalnya aku ragu mau edit kayak gini. Tapi menurut aku malah dapat 'imej' lain gituloh.

      Terimakasih banyak kakak :)

      Delete
  18. blognya rame banyakyang komen.... bakal banyak kepo sama air terjun dan yg punya blog... bersabarlah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huehehehe, alhamdulillah.
      Berarti sedikit banyak saya ikutan berkontribusi untuk memperluas informasi potensi wisata di Malang.

      Bisa kayaknya saya jadi duta wisata (ngarep bet xD).

      Yang punya blog termasuk jenis dryad (peri hutan).

      Delete
  19. Replies
    1. Jangan 'pingin' doang, rencanakan betulan :') wkwkwkwkkw.

      Delete
  20. Foto-fotonya seperti dalam dunia dongeng, sangat menarik dan membawa kita ke masa lalu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan semoga apa yang dari masa lalu menjadikan kita lebih baik :) hehehe.

      Anyway, terimakasih sudah berkunjung kemari pak ^^

      Delete
  21. Howalaa.. Sumber pitu to namanya..
    tapi uadoh eh ning Malang.. hehe

    Btw.. kok aku pusing yo liat gambar-gambarnya..
    Bikin penasaran ni sama panorama yang asli.. haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya kalau ke Malang sempatin seminggu deh mas.
      Biar bisa ke pantai-pantai, sumber-sumber, cuban-cuban, gunung-gunung, bukit-bukit, kafe-kafenya, semuanya deh hahaha.

      Pindah ke Malang aja sekalian wkwkwkw.

      Nyoba-nyoba aja edit gaya begini.
      Aslinya mah lebih bagus!

      Delete
  22. Bagusnya,, Eh pas berdiri deket air terjun, airnya nyiprat sampe bikin basah nggak si mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baguss banget! Kuylah direncanakan kesini mba hehehhe. Kalo terlalu dekat sih iya, tapi gapaa seger. Trus juga bakalan kering waktu perjalanan balik keparkiran, soalnya jauh wkwkw ^^v

      Delete
  23. sek sek.. iki pujon malang a..
    salam kenal mbak yo.. aq suwe loh mbak nak malang.. ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaaaa yang deketnya Batu juga ituloh kak xD

      Salam kenal juga mbaaak!! Hehehehe, wih, Malang mana nih?
      Saya mah cuma domisili aja sementara.............eh tapi belum tau juga bakal di Malang berapa lama lagi hehehe.

      Delete

Hello from the other side! Syukran so much sudah baca tulisan saya sampai akhir. Gimana? Silahkan ruahkan pendapat kamu~ ヽ(⌐■_■)γƒŽ♪♬
Kalau gak komen, gimana aku bisa kenal kamu.


Maaf ya, komentar dengan link aktif tidak diperkenankan.

Sanak RancakγƒΎ(⌐■_■)γƒŽ♪

Sahabat Google+